Mengenal Terapi Hiperbarik

Foto artikel

Mengenal Terapi Hiperbarik

Istilah Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) atau Terapi Hiperbarik di Indonesia memang belum begitu populer, hanya mungkin baru segelintir orang yang mengenalnya, padahal pemanfaatan HBOT sudah dilakukan sejak 1960 oleh Lakesla yang bekerja sama dengan RS Angkatan Laut Dr. Ramelan, Surabaya.

Hingga saat ini fasilitas tersebut masih merupakan yang terbesar di Indonesia. Sementara di tempat lain meski telah tersedia fasilitas terapi oksigen hiperbarik sayangnya sampai saat ini baru Rumah Sakit besar yang memiliki fasilitas tadi, antara lain RS Betshaida Tangerang-Banten.
Dasar dari terapi hiperbarik sedikit banyak mengandung prinsip fisika. Teori Toricelli ini yang mendasari terapi HBOT,dimana digunakan untuk menentukan tekanan udara 1 atm adalah 760 mmHg. Kandungan komposisi  unsur-unsur udara yang terkandung di alam ini mengandung Nitrogen (N2) 78 % dan Oksigen (O2) 21%. Pada terapi HBOT menggunakan unsur media napas Oksigen (O2) 100%.Terapi HBOT ini juga berdasarkan teori fisika dasar dari hukum-hukum Dalton, Boyle, Charles dan Henry. Hiperbarik oksigen terapi adalah Terapi medis yang telah terbukti secara klinis dengan cara menghirup oksigen murni di dalam suatu ruangan bertekanan tinggi.
Sedangkan prinsip yang dianut secara fisiologis adalah bahwa tidak adanya O2 pada tingkat seluler akan menyebabkan gangguan kehidupan pada semua organisme. Oksigen yang berada di sekeliling tubuh manusia masuk ke dalam tubuh melalui cara pertukaran gas. Fase-fase respirasi dari pertukaran gas terdiri dari fase ventilasi, transportasi, utilisasi dan diffusi. Dengan kondisi tekanan oksigen yang tinggi, diharapkan matriks seluler yang menopang kehidupan suatu organisme mendapatkan kondisi yang optimal.
Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) adalah terapi medis dimana pasien dalam suatu ruangan menghirup oksigen
100% pada tekanan barometer tinggi (hyperbaric chamber). Kondisi lingkungan dalam HBOT bertekanan udara yang lebih besar dibandingkan dengan tekanan di dalam jaringan tubuh (1 ATA). Keadaan ini dapat dialami oleh seseorang pada waktu menyelam atau di dalam ruang udara yang bertekanan tinggi (RUBT) baik yang dirancang untuk kasus penyelaman maupun pengobatan penyakit klinis.
Efek yang didapatkan dari terapi HBOT ada dua yang pertama efek mekanik dan kedua efek fisiologis. Efek fisiologis dapat dijelaskan melalui mekanisme oksigen yang terlarut plasma. Pengangkutan oksigen ke jaringan Pengangkutan oksigen ke jaringan meningkat seiring dengan peningkatan oksigen terlarut dalam plasma. Efek mekanik  meningkatnya tekanan lingkungan atau ambient yang memberikan manfaat penurunan volume gelembung gas atau udara seperti pada terapi penderita dekompresi akibat kecelakaan kerja penyelaman dan gas emboli yang terjadi pada beberapa tindakan medis rumah sakit. Efek peningkatan tekanan parsial oksigen dalam darah dan jaringan yang memberikan manfaat terapeutik: bakteriostatik pada infeksi kuman anaerob, detoksikasi pada keracunan
karbon monoksida, sianida dan hidrogensulfida, reoksigenasi pada kasus iskemia akut, crush injury, compartment syndrome maupun kasus iskemia kronis, luka yang tidak sembuh, nekrosis radiasi, skin graft preparation dan luka bakar.

http://fokus.co.id/2015/02/01/mengenal-terapi-hiperbarik/