Mengenal Lebih Dekat Hyperbaric Oxygenation Therapy di FK UHT

Foto artikel

Mengenal Lebih Dekat Hyperbaric Oxygenation Therapy di FK UHT

Written By BPN ISMKI on Senin, 06 Juli 2015 | 13.23

Universitas Hang Tuah merupakan universitas di bawah naungan yayasan TNI Angkatan Laut. Oleh karena itu terdapat beberapa materi kuliah yang berhubungan dengan kelautan yang dimasukkan ke dalam kurikulum fakultas-fakultas yang bernaung di bawahnya. Tidak terkecuali di fakultas kedokteran. Mahasiswa kedokteran mendapatkan blok khusus mengenai kesehatan kelautan di semester 6. Materi yang disampaikan antara lain fisika penyelaman, kesehatan penyelaman, penyakit dekompresi, barotrauma, dan tidak ketinggalan terapi hiperbarik. Hyperbaric Oxygenation Therapy atau HBOT merupakan suatu terapi dengan menggunakan gas oksigen 100% sebagai media nafas pada tekanan lebih dari 1 atm dalam suatu RUBT (Ruangan Bertekanan Tinggi).

Chamber Hiperbarik

Perkembangan pengobatan oksigen hiperbarik dimulai pada tahun 1879 di Fontaine seorang ahli bedah Perancis, mengembangkan ruang operasi mobile bertekanan. Kemudian pada tahun 1930 oleh militer, terapi ini diperuntukkan kepada penyelam laut dalam yang mengalami penyakit dekompresi. Penyakit ini disebabkan gelembung nitrogen yang tidak larut sempurna di pembuluh darah yang bisa disebabkan karena penyelaman yang terlalu dalam, waktu yang terlalu lama atau waktu naik ke permukaan yang terlalu cepat. Gelembung nitrogen ini dapat menyumbat pembuluh darah terutama pembuluh darah otak sehingga dapat menimbulkan gejala neurologis seperti kelumpuhan atau sinkop. Seiring dengan perkembangannya, HBOT digunakan untuk pengobatan penyakit klinis pertama kali di Jerman oleh dr. Josef Reush dan kemudian terapi HBOT berkembang hingga saat ini.

Di Indonesia, terapi HBOT dapat ditemukan di beberapa rumah sakit pemerintah dan rumah sakit angkatan laut. Di Surabaya terapi ini bisa dilakukan di Lakesla (Lembaga Kesehatan Kelautan TNI Angkatan Laut) yang berada di kompleks Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Ramelan. Dasar terapi HBO antara lain dengan memperkecil volume gelembung gas, mempercepat resolusi gelembung gas, memberikan oksigen secara maksimal pada daerah iskemik/hipoksia, meningkatkan neovaskularisasi, menekan pertumbuhan kuman, meningkatkan pembentukan fibroblas, meningkatkan daya fagositosis leukosit, serta meningkatkan kebugaran dan untuk tujuan kecantikan dan geriatri.

Pada tanggal 25 Juni lalu mahasiswa kedokteran UHT semester 6 mendapatkan praktikum hiperbarik di Lakesla. Di Lakesla terdapat 2 buah chamber dengan kapasitas 11 dan 7 orang. Sebelum memasuki chamber, mahasiswa harus bisa melakukan valsava agar dapat menyeimbangkan tekanan di telinga tengah dan tekanan di luar tubuh. Apabila tidak mampu melalukan valsava akan muncul rasa nyeri di telinga dan perasaan buntu/tuli. Oleh karena itu bagi yang sedang flu tidak disarankan untuk ikut masuk ke dalam chamber karena dikhawatirkan tidak mampu melakukan valsava. Untuk pasien dengan indikasi medis, pasien menghisap oksigen 100% selama 30 menit di ruangan dengan tekanan 2,4 ata (setara dengan menyelam di kedalaman 60 kaki/18,2 meter). Namun pada praktikum ini mahasiswa hanya ditekan di kedalaman 8 meter (kurang dari 2 ata). Efek yang didapatkan setelah mendapat terapi selama 30 menit bagi mahasiswa adalah tubuh terasa segar setelah keluar dari chamber.

 Chamber Besar

Indikasi pengobatan HBO ini tidak hanya untuk penyakit dekompresi saja, namun juga dimanfaatkan untuk terapi penyakit klinis lainnya seperti luka gangren, pasca bedah plastik,stroke, luka amputasi, oedem otak dan beberapa penyakit lainnya. Selain indikasi medis, banyak juga pasien wanita yang memanfaatkan terapi hiperbarik ini untuk kecantikan kulit.

Oleh : 

Quri Meihaerani Savitri / FK Universitas Hang Tuah 2012 / qurimeihaerani@gmail.com

 

Sumber : http://www.spektrumonline.bpn-ismki.org/2015/07/mengenal-lebih-dekat-hyperbaric.html