Ini Bedanya Pembuluh Darah Setelah Terapi Oksigen Hiperbarik

Foto Berita

Ini Bedanya Pembuluh Darah Setelah Terapi Oksigen Hiperbarik

Liputan6.com, Jakarta Kebakaran yang mengakibatkan 4 orang meninggal di di Gedung Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT) lama Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Mintohardjo menuai tanda tanya. Sebenarnya terapi apakah yang bisa dilakukan di ruang udara bertekanan tinggi untuk terapi oksigen hiperbarik tersebut? Apa bedanya dengan kondisi normal kita sehari-hari?

Mengutip laman Mayo Clinic, Selasa (15/3/2016) terapi oksigen hiperbarik ini bertujuan menyembuhkan berbagai macam penyakit ringan hingga berat seperti jantung, kanker, kerusakan otak dan sebagainya. Terapi oksigen hiperbarik ini bertujuan meningkatkan jumlah molekul oksigen yang masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan maupun pori-pori atau jaringan luar tubuh. Dengan meningkatnya oksigen yang dihirup, maka jumlah oksigen yang terlarut di dalam darah semakin meningkat. Sedangkan oksigen diangkut oleh darah ke seluruh sel-sel dan jaringan-jaringan tubuh.

Kita tahu, banyak fungsi-fungsi sel dan jaringan tubuh yang bergantung pada oksigen sehingga terapi ini dapat meningkatkan kemampuan sel-sel dan jaringan-jaringan tubuh untuk membelah atau beregenerasi, membunuh kuman penyakit dan sebagainya. "Cara kerja alat ini mengalirkan oksigen ke dalam sel darah, plasma darah, cairan otak-tulang belakang dan cairan tubuh lainnya. Penyerapan oksigen ini nantinya akan meningkat alami selama terapi oksigen hiperbarik. Dengan begitu, terapi ini meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyembuhkan sendiri," tulis situs Oxfordhbot.

Menurut para ahli kesehatan, mekanisme penyembuhan alami ini jauh lebih efisien dibandingkan terapi lain karena jaringan yang rusak tersebut menerima banyak oksigen. Bahkan ketika pasokan darah terganggu, jaringan masih dapat menerima manfaat penyembuhan oksigen dari cairan tubuh lain dan plasma di daerah sekitarnya.

Lebih jelasnya berikut gambaran kondisi darah normal dan setelah di terapi hiperbarik:

Darah normal

Pada aliran darah normal, ada 21 persen oksigen di udara yang kita hirup. Kemudian paru-paru kita mentransfer oksigen ini untuk sel-sel darah merah (melalui hemoglobin). Sel darah merah yang penuh oksigen ini lantas membawa oksigen ke seluruh tubuh oleh plasma yang bergerak melalui pembuluh darah. Oksigen kemudian berdifusi ke dalam jaringan dan sekitarnya untuk memastikan semua organ telah menerimanya.

Pembatasan aliran darah

Aliran darah yang terhambat dapat terjadi karena pembedahan, penyakit, cedera, atau sel-sel darah merah yang memblokir pembuluh darah sehingga tidak dapat mentransfer oksigen ke sel-sel di sisi lain dari oklusi. Hal ini menyebabkan pembengkakan dan menumpuknya daerah oksigen, biasanya kondisi ini dikenal dengan hipoksia (kekurangan oksigen), ketika hal ini terjadi jaringan mulai rusak.

Oksigen Hiperbarik

Terapi oksigen hiperbarik akan mengerahkan 100 persen oksigen untuk berdifusi ke dalam plasma darah. Plasma yang kaya oksigen ini kemudian menyebarkan hingga 4 kali lebih jauh ke dalam jaringan. Hal ini akan membantu mengurangi pembengkakan dan ketidaknyamanan. Belum lagi, terapi ini akan menyebar 10 kali pasokan normal oksigen untuk membantu memperbaiki jaringan yang rusak.

Regenerasi sel

Pembuluh darah yang meregenerasi sel setelah terapi oksigen hiperbarik ini memaksa lebih banyak oksigen ke dalam jaringan, mendorong pembentukan pembuluh darah baru. Bisa dilihat, sel-sel darah merah mulai mengalir, memberikan lebih banyak oksigen ke jaringan yang rusak dengan proses penyembuhan alami tubuh.

Sumber : http://health.liputan6.com/read/2459060/ini-bedanya-pembuluh-darah-setelah-terapi-oksigen-hiperbarik